Friday, May 17, 2013

Sepatu Butut

Dulu jaman masih jadi mahasiswa, saya pernah membuat sebuah zine (DIY-self publishing) namanya SEPATU BUTUT. Ditulis manual di kertas HVS biasa pakai spidol, ditempel ini itu dengan gambar-gambar hasil buatan sendiri juga hasil sobekan dari majalah. Dibuat di beberapa lembar HVS, lalu dihekter seperti buku, difotokopi seadanya, secukupnya uang (maklum masih mahasiswa). Tapi entah apa yang bisa menggerakkan saya ketika itu untuk bersabar dengan segala keterbatasan itu, mengguntingi satu persatu, menempelkannya dengan lem kertas murahan, padahal saya punya komputer dan biasa membuat desain dengan itu. Lalu zine yang sudah difotokopi tersebut disimpan di kantin kampus supaya bisa diambil dengan gratis oleh mahasiswa/dosen yang sedang makan atau ngobrol-ngobrol di sana. Isinya hanya seputar ocehan-ocehan tidak penting, esai-esai murahan, gambar-gambar seenaknya, opini-opini labil, pokonya apa saja yang saya suka maka saya tulis. Dibuat dengan kesenangan dan sedikit berharap ada yang membacanya, menyimpannya, lalu mendapatkan sesuatu dari sana, apapun itu. Kalaupun ada yang membuangnya tidak masalah, no worries. Tidak peduli bagaimana respon pembaca terhadap tulisan-tulisan saya. Yang positif maupun negatif, semuanya saya terima, atau menyikapi pujian yang kadang lebih ‘berbahaya’ dari cacian. Saya senang karena saya bisa jadi apa saja dalam satu waktu, saya adalah chief editor, penulis, bendahara, sekretaris, public relation sekaligus jadi pembantu umum yang berangkat ke tukang foto copy. Media mana coba yang memungkinkan semua hal itu terjadi? :D

Saya memuja prinsip DIY (Do It Yourself) anak-anak punk yang menurut saya sangat independen. Walaupun saya bukan anak punk dengan penampakan rambut yang di mohawk dan segala performance-nya. Tapi prinsip DIY mereka bisa kita adopsi untuk diterapkan dalam kehidupan kita, siapapun kamu. Untuk kalian ketahui, masih banyak anak-anak punk yang belum sadar inti dari DIY yang sebenarnya positif dan sayangnya mereka hanya ikut-ikutan saja agar disebut radikal dan keren. Jika kalian ada yang menjalankan prinsip DIY ini, then you are a true punk. Sebagai catatan, zine (dibaca 'zin' bukan 'zain' - red) kependekan dari kata 'magazine', adalah sebuah media independen yang diterbitkan sendiri oleh siapapun dengan mengandalkan sarana-prasarana serta kemampuan apa adanya, tanpa tergantung atau diatur oleh orang lain. Zine tidak ditunggangi oleh kepentingan pihak manapun, its all free to create and publish. Zine bagi saya adalah media alternatif, bisa juga disebut creative writing karena kehadirannya mengisi celah kosong media mainstream yang tidak memungkinkan kita untuk membuat sebuah media yang bebas dan merdeka.

Kembali lagi dengan soal "Sepatu Butut", kenapa namanya harus "Sepatu Butut", bukan nama lain yang lebih keren? Suatu hari saat naik angkot, di sebuah lampu merah ada pengamen cilik yang nyanyi lagu berbahasa Sunda, kira-kira potongan liriknya seperti ini: "sapatu butut, sapatu boga sorangan..kabogoh butut, kabogoh boga sorangan...". Jadi intinya, se-butut atau sejelek apapun barang atau sesuatu yang kamu miliki, yang penting punya kita sendiri. Sederhananya: jelek-jelek juga punya kita sendiri, daripada pakai barang bagus atau mewah tapi pinjam punya orang lain atas nama gengsi. 

Semoga tulisan ini bermanfaat.

No comments:

Post a Comment