Saturday, May 18, 2013

You are What You Buy

Seberapa sering kita belanja dalam sebulan? Seminggu? Sehari? Seberapa banyak uang yang kita habiskan untuk membeli semua itu? Apakah yang kita beli benar-benar sesuatu yang dibutuhkan?
Kadang yang kita inginkan belum tentu sesuatu yang benar-benar kita butuhkan.

Pernah dengar Buy Nothing Day?

Buy Nothing Day atau Hari Tanpa Belanja adalah sebuah ide sederhana dengan cara mengajak kita untuk tidak berbelanja selama sehari. Ini adalah suatu bentuk perlawanan terhadap budaya konsumerisme. Ide Hari Tanpa Belanja dicetuskan oleh Ted Dave, seorang seniman dari Vancouver, pendiri Adbusters, pada tahun 1993. Kini Hari Tanpa Belanja telah dirayakan secara internasional di lebih dari 30 negara. Uniknya, tanggal perayaan di tiap negara berbeda, hari dipilih berdasarkan hari yang paling memungkinkan pada saat itu orang-orang menghabiskan waktu untuk berbelanja. Di Indonesia sendiri Hari Tanpa Belanja biasa dirayakan pada hari Sabtu pada minggu terakhir bulan November, di mana pusat-pusat perbelanjaan sedang gencar-gencarnya memberikan diskon. 

Hal positif yang bisa saya ambil dari perayaan ini adalah sebuah kesadaran kritis sebagai konsumen dalam berbelanja. Menyadarkan saya bahwa berbelanja bukan semata urusan personal konsumen/pembeli. Belanja adalah salah satu rantai proses kehidupan yang saling berkait dengan persoalan-persoalan yang ada di kehidupan manusia, salah satunya masalah lingkungan hidup. Bahan baku dan cara yang digunakan untuk membuat barang-barang kita memiliki dampak buruk seperti kerusakan lingkungan, limbah industri, dan pemborosan energi. Saya bukan aktivis lingkungan hidup, tapi semenjak membaca tentang hal ini, saya mulai belajar untuk berubah. Setidaknya perubahan untuk skala mikro, yaitu diri saya sendiri.

Apakah dengan tidak belanja dalam satu hari akan membuat perubahan besar dalam dunia? Mungkin tidak, jika seseorang melakukannya sendiri. Hari Tanpa Belanja tidak akan mengubah gaya hidup kita hanya dalam satu hari, tapi memberikan sebuah pengalaman dalam melakukan perubahan. Ditambah sisi baik lainnya, yaitu penghematan :p Itu yang lebih penting menurut saya.

You are what you buy. Think before you buy.




Friday, May 17, 2013

Sepatu Butut

Dulu jaman masih jadi mahasiswa, saya pernah membuat sebuah zine (DIY-self publishing) namanya SEPATU BUTUT. Ditulis manual di kertas HVS biasa pakai spidol, ditempel ini itu dengan gambar-gambar hasil buatan sendiri juga hasil sobekan dari majalah. Dibuat di beberapa lembar HVS, lalu dihekter seperti buku, difotokopi seadanya, secukupnya uang (maklum masih mahasiswa). Tapi entah apa yang bisa menggerakkan saya ketika itu untuk bersabar dengan segala keterbatasan itu, mengguntingi satu persatu, menempelkannya dengan lem kertas murahan, padahal saya punya komputer dan biasa membuat desain dengan itu. Lalu zine yang sudah difotokopi tersebut disimpan di kantin kampus supaya bisa diambil dengan gratis oleh mahasiswa/dosen yang sedang makan atau ngobrol-ngobrol di sana. Isinya hanya seputar ocehan-ocehan tidak penting, esai-esai murahan, gambar-gambar seenaknya, opini-opini labil, pokonya apa saja yang saya suka maka saya tulis. Dibuat dengan kesenangan dan sedikit berharap ada yang membacanya, menyimpannya, lalu mendapatkan sesuatu dari sana, apapun itu. Kalaupun ada yang membuangnya tidak masalah, no worries. Tidak peduli bagaimana respon pembaca terhadap tulisan-tulisan saya. Yang positif maupun negatif, semuanya saya terima, atau menyikapi pujian yang kadang lebih ‘berbahaya’ dari cacian. Saya senang karena saya bisa jadi apa saja dalam satu waktu, saya adalah chief editor, penulis, bendahara, sekretaris, public relation sekaligus jadi pembantu umum yang berangkat ke tukang foto copy. Media mana coba yang memungkinkan semua hal itu terjadi? :D

Saya memuja prinsip DIY (Do It Yourself) anak-anak punk yang menurut saya sangat independen. Walaupun saya bukan anak punk dengan penampakan rambut yang di mohawk dan segala performance-nya. Tapi prinsip DIY mereka bisa kita adopsi untuk diterapkan dalam kehidupan kita, siapapun kamu. Untuk kalian ketahui, masih banyak anak-anak punk yang belum sadar inti dari DIY yang sebenarnya positif dan sayangnya mereka hanya ikut-ikutan saja agar disebut radikal dan keren. Jika kalian ada yang menjalankan prinsip DIY ini, then you are a true punk. Sebagai catatan, zine (dibaca 'zin' bukan 'zain' - red) kependekan dari kata 'magazine', adalah sebuah media independen yang diterbitkan sendiri oleh siapapun dengan mengandalkan sarana-prasarana serta kemampuan apa adanya, tanpa tergantung atau diatur oleh orang lain. Zine tidak ditunggangi oleh kepentingan pihak manapun, its all free to create and publish. Zine bagi saya adalah media alternatif, bisa juga disebut creative writing karena kehadirannya mengisi celah kosong media mainstream yang tidak memungkinkan kita untuk membuat sebuah media yang bebas dan merdeka.

Kembali lagi dengan soal "Sepatu Butut", kenapa namanya harus "Sepatu Butut", bukan nama lain yang lebih keren? Suatu hari saat naik angkot, di sebuah lampu merah ada pengamen cilik yang nyanyi lagu berbahasa Sunda, kira-kira potongan liriknya seperti ini: "sapatu butut, sapatu boga sorangan..kabogoh butut, kabogoh boga sorangan...". Jadi intinya, se-butut atau sejelek apapun barang atau sesuatu yang kamu miliki, yang penting punya kita sendiri. Sederhananya: jelek-jelek juga punya kita sendiri, daripada pakai barang bagus atau mewah tapi pinjam punya orang lain atas nama gengsi. 

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Psychedelia



Dunia hari ini adalah pelajaran buruk pertamaku tentang hidup~
Seakan2 aku hanya berada 'di dalam' dunia, bukan merupakan 'bagian' dari dunia~
Globalisasi adalah vampir di siang hari~
Itulah realitanya suka atau tidak suka~
Deru mesin2 pabrik dan suara knalpot adalah nyanyian burung di pagi hari~
Jauh lebih dahsyat dari raungan gitar Jimi Hendrix apalagi lengkingan Janis Joplin~
Hanya karena setitik perbedaan, senjata berbicara, bom berteriak~
Walaupun ada penetapan absolut "setiap yang hidup harus mati"~
Biarkan kita mati karna Sang Pemilik yang menjemput~
Bukan karna nafsu, amarah, dan kekuasaan~
Perang meninggalkan luka dalam, sakit sekali~
Kita butuh makan, bukan bom!
FOOD NOT BOMBS!~
Karena seharusnya ada cukup makanan untuk kita semua~
Untuk semua orang di negri ini hingga akhir usia~
Karena kekurangan bahan makanan pokok adalah bohong!~
Dimana lagi bisa kau temukan negeri dengan tanah subur dan laut yang makmur~
Karena tanah pulau Jawa yang subur dan gembur telah hancur~
Kini ditanami bibit2 tumbuhan mutakhir bernama industri, pabrik, dan super mall~
Dengan pupuk penambah kesuburan bernama kapitalisme dan konsumerisme~
Inilah negri lautan sampah, genangan air, dan lumpur panas~
Berikan aku LSD~
Turn on, tune in, drop out.........~
Biarkan pola2 molekular berenang2 di dalam kepala~
Biarkan aku berhalusinasi tentang negeri impian yang indah dengan pelangi berwarna psychedelic....


::10 Januari 2009
ocehan di pagi buta|gerimis|dramatis....

(Tulisan ini baru ketemu lagi di komputer, pernah diposting di facebook beberapa tahun yang lalu. Tapi semenjak facebook jadi media sosial yang menjemukan dan begitu mainstream, jadi saya posting ulang di sini agar menemukan pembaca barunya. Ditulis waktu saya lagi tergila2 sama all about psychedelic.)
 


Mari Menulis Kembali

Hari ini saya menulis lagi.

Kenapa harus menulis?

Pramoedya Ananta Toer, salah satu penulis Indonesia yang saya kagumi pernah menulis: "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi, selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah."

Lalu, apakah karena kata-kata Pramoedya, saya jadi mau belajar menulis lagi? Boleh jadi iya. Bukan karena saya takut tidak dianggap dalam sejarah dan masyarakat pada zaman saya, namun lebih takut lagi bahwa saya tidak meninggalkan apa-apa untuk anak-cucu saya kelak. Bahwa warisan bukan hanya berbentuk materi, warisan juga dapat berupa pemikiran-pemikiran dan pandangan hidup kita. Banyak hal yang bisa kita ceritakan, tentang harapan, optimisme, pesimisme, kegelisahan, apa yang sedang nge-hits di zaman kita, hal-hal apa yang disukai atau dibenci orang saat itu, persepsi cantik di masa lalu dan hari ini tentu berbeda, gaya hidup, teknologi, seni, budaya, dan sederet persoalan lainnya. Banyak hal yang menarik untuk diceritakan pada anak-cucu kita.

Tulisan adalah salah satu artefak peradaban manusia. Kita dapat menelusuri peradaban dan sejarah manusia dengan melihat pada karya-karya tulisan manusia di masa tersebut. Semoga tulisan-tulisan saya dapat memberikan sumbangan pemikiran tentang apa yang terjadi pada zaman saya. Terlepas dari bagaimana cara dan gaya kita menulis, semuanya tidak terlalu penting. Gagasan dan isi tulisan kita lah yang menurut saya lebih penting. Saya percaya sebuah tulisan tidak selalu harus bersumber dari hal-hal besar dan luar biasa, hal-hal kecil yang dianggap remeh dan tidak penting justru seringkali memberikan manfaat dan inspirasi. Setidaknya bagi saya.

Let's write about the little things.
Little things make big things happen.
Enjoy the little things, for one day you may look back and realize they were the big things.

Selamat menulis dan membaca.

Love,
Dita